Monday, April 21, 2014

Janji dan Pengharapan Orang Percaya



Yeremia 33:14-1
33:14 “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.
33:15 Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri.
33:16 Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita!
TUHAN dalam pemberitaan Yeremia ini menegaskan bahwa Ia pasti menepati janji-Nya. Apa saja janji yang hendak ditepati-Nya itu? Pemulihan apa saja yang hendak dilakukan-Nya?
-          Menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud à kepemimpinan bangsa Yehuda yang selama ini sangat jauh dari prinsip-prinsip keadilan akan segera dipulihkan oleh Tuhan, dan itu berasal dari keturunan raja Daud.
-          Melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri (Yehuda) à apa yang dirindukan oleh rakyat selama ini, yaitu keadilan dan kebenaran, akan dilaksanakan oleh Allah sendiri melalui pemimpin yang ditumbuhkan-Nya itu.
-          Membebaskan Yehuda à pembebasan dari penindasan para penguasa yang lalim, dari penindasan bangsa lain, dan dari keterpurukan.
-          Memberikan kehidupan yang tenteram bagi Yerusalem à tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi intimidasi, tidak ada lagi kekuatiran, tidak ada lagi kegelisahan, tidak ada lagi keputusasaan; sebaliknya yang adalah rasa aman, rasa nyaman, feel at home, dan rasa damai.
Atas dasar itulah kemudian kaum Israel dan Yehuda akan dipanggil “TUHAN keadilan kita”.


Kita tentunya sudah pernah mengalami masa-masa sulit: dalam keluarga, dalam studi, dalam persahabatan, bahkan dalam kehidupan bergereja. Dalam kondisi yang sulit, dalam keadaan terjepit, secara manusiawi apa pun bisa dilakukan; percaya atau tidak, banyak orang yang berperilaku aneh akhir-akhir ini untuk menutupi suasana hatinya yang gundah-gulana, banyak orang yang pura-pura gila atau sakit ketika masalah terasa begitu berat membebani, banyak juga yang benaran gila ketika masalah datang silih berganti dan akhirnya membuatnya stres/depresi. Banyak remaja/pemuda yang bunuh diri karena broken-heart, banyak anak yang tidak terurus karena broken-home, banyak yang tidak fokus belajar lagi karena SMS-nya tidak dibalas oleh si-dia atau pesan FB-nya tidak ditanggapi, atau mungkin karena uang belanja yang belum dikirim oleh orangtua. Pada saat-saat pencobaan, pada saat-saat adanya tekanan, kita biasanya merindukan terjadinya hal-hal yang dahsyat atau pun mukjizat. Dalam situasi yang terjepit, kita kemungkinan mau melakukan apa pun, bahkan sekalipun hal itu salah. Dalam keadaan darurat, segala kemungkinan bisa saja kita lakukan, sekalipun mungkin membahayakan diri kita sendiri. Ketika kita diperhadapkan pada situasi yang sulit, bukan tidak mungkin kita bisa kehilangan pegangan dan harapan. Dalam situasi dan kondisi penyakit yang tidak menentu, kita bisa saja “kecewa” dengan Tuhan, dan mungkin berkata: “apa lagi Tuhan yang Engkau inginkan dariku? Katanya Engkau adalah Allah yang dahsyat, sumber mukjizat, tapi mana ….???”. Bukan tidak mungkin kita bisa saja alergi dengan hal-hal yang rohani! Di bawah tekanan, di bawah ancaman, di dalam kesulitan, di dalam penderitaan, di dalam kesesakan, di dalam kekecewaan (patah hati), di dalam kebingungan, dan dalam situasi yang tidak menentu, kita bisa saja menghalalkan segala cara, berbohong, pura-pura gila, tidak mau makan, berontak, pesimis, bahkan menghujat Tuhan pun bisa saja terjadi. Sdra/i, orang yang hidup tanpa pengharapan sesungguhnya sudah tidak memiliki hidup. Mereka yang sudah tidak punya pengharapan adalah mereka yang hidup dalam kehampaan, tidak mempunyai tujuan hidup, tidak memiliki semangat hidup, serta melihat hidup ini sebagai sesuatu yang membebani dan tidak berguna.

Namun, pada hari ini kita disemangati oleh Firman Tuhan, bahwa seburuk dan separah apapun kondisi dan situasi kita saat ini, Tuhan pasti mampu berkarya, Dia mampu memulihkan kita. Itulah pengharapan kita, dan kita percaya bahwa Tuhan pasti menepati janji-Nya itu. Pengharapan Kristen adalah sebuah pengharapan yang diletakkan kepada Tuhan, bahkan walaupun segala sesuatunya sudah nampak mustahil bagi manusia. Oleh sebab itu, pengharapan kita hanya ditujukan kepada Allah saja. Segala sesuatu yang kita miliki saat ini tidak dapat menjanjikan pengharapan yang kekal bagi kita. Pekerjaan atau jabatan apapun memang sangat penting, namun tidak dapat menjanjikan kedamaian dan ketenteraman bagi kita, bahkan seringkali pekerjaan atau jabatan itu menjadi masalah ketika kita menyalahgunakannya. Institusi pemerintah dan swasta, termasuk institusi pendidikan dan penegak hukum, juga tidak dapat memberi kita pengharapan yang sempurna dalam hal penegakkan kebenaran dan keadilan, bahkan seringkali institusi itu menjadi sumber ketidakbenaran dan ketidakadilan. Keluarga, teman-teman, rekan kerja, demikian juga kepandaian bahkan uang, tidak dapat menjanjikan sesuatu yang pasti bagi kita. Oleh sebab itu kita tidak dapat menaruh pengharapan kita sepenuhnya di atas semuanya itu. Tetapi Tuhan itu setia terhadap janji-Nya dan Dia berkuasa melaksanakan janji-Nya.
Menantikan kedatangan Tuhan berarti menanti janji-Nya; menanti janji-Nya berarti hidup dalam pengharapan, Dan pengharapan kita ialah bahwa Tuhan akan melaksanakan kebenaran dan keadilan di dalam kehidupan kita.
Amin

Sunday, July 14, 2013

Beritahukan Saya Mengenai Jaminan Itu

Ketika kita membeli sebuah produk dengan jaminan seumur hidup si penjualnya akan mengucapkan, "Barang ini tahan selamanya, tetapi rawatlah barang itu atau jaminannya tidak berlaku." Apakah jaminan seperti itu merupakan analogi yang baik untuk kese-lamatan? Amankah, atau dapatkah kita melakukan sesuatu untuk meniadakan jaminan itu? Pertanyaan-pertanyaan itu memperkenalkan kita pada doktrin keyakinan dan ketekunan. Jaminan merupakan keyakinan seseorang akan keselamatan meskipun hidup-nya tidak sempurna. Ketekunan merupakan kepercayaan dan ketaatan terus-menerus kepada Kristus, yang bertahan hingga akhir hidup.
Subjek ini sering diperdebatkan dengan tajuk "keamanan kekal" (eternal security). Pertanyaan pokok-nya ialah, "Dapatkah orang-orang Kristen kehilangan keselamatannya?" Tetapi, isu yang harus ditanyakan mungkin adalah: "Dapatkah orang-orang percaya mengakui telah diselamatkan?" 1 Yohanes 2:19 menjawab pertanyaan kedua secara positif. "Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita." Apa pun uraian historisnya, Yohanes mengatakan bahwa orang-orang Kristen itu, yang mengaku percaya, akhirnya terbukti bahwa mereka bukanlah orang-orang Kristen yang sesungguhnya. Mereka tidak kehilangan keselamatan karena mereka tidak pernah memilikinya.
Jadi, bagaimana seseorang mengetahui bahwa ia telah diselamatkan?

Allah memandang proses penebusan sebagai se-buah karya utuh, karya-Nya. "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya . . . Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya; Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenar-kan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya" (Roma 8:29-30).
Paulus me-nyimpulkan bahwa tidak ada yang dapat memisahkan orang-orang percaya yang sesungguhnya dari kasih Allah (Roma 8:38-39), dan Roh Kudus sendiri memberi kita suatu keyakinan tatkala la "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Roma 8:16). Kesaksian di dalam hati kita merupakan bagian yang meyakinkan bahwa kita sungguh-sungguh sudah diselamatkan.

Tetapi, keyakinan jaminan yang salah sering ter-jadi di dalam masyarakat yang menghargai nilai-nilai keagamaan. Amatilah berapa banyak orang yang meng-anggap dirinya Kristen semata-mata karena pergi ke gereja atau melakukan perbuatan baik. Bagaimanapun, Yesus mengetahui profesor-profesor yang palsu. "Pada hari terakhir banyak orang kan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu'." (Matius.
7:22-23).

Tantangan Yesus, "Tetapi orang yang bertahan sam-pai pada kesudahannya akan selamat" (Matius 10:22; 24:13). Perlunya kita bertahan tidak harus membuat kita takut karena Allah memelihara kepunyaan-Nya. Paulus menekankan hal itu ketika menulis kepada orang-orang Filipi: "Akan hal ini aku yakin sepenuh-nya, yaitu la, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhir¬nya pada hari Kristus Yesus" (Filipi 1:6). Kematian Yesus telah menyelesaikan karya penebusan-Nya, dan Allah memeteraikan kita dengan Roh Kudus (Efesus 1:13; 4:30). Penggenapan karya keselamatan Allah ber-gantung pada kesetiaan-Nya, bukan pada usaha kita. Orang-orang   yang   sungguh-sungguh   diselamatkan telah aman di dalam Kristus.

Paulus mendorong orang-orang Korintus yang tidak taat, "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalarn iman" (2 Korintus 13:5). Kita membuktikan bahwa pengakuan kita nyata melalui kehidupan kita. Apakah Anda melihat sebagian bukti Roh Kudus ber-diam di dalam hidup Anda, misalnya buah Roh (Galatia 5:22-23)? Kehadiran buah Roh merupakan bukti yang kita cari untuk memastikan keselamatan kita sendiri.
Kita dapat beristirahat dengan penuh keyakinan Alkitab bahwa Allah "Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di ha-dapan kemuliaan-Nya" (Yudas 1:24). Yakinlah bahwa kegagalan-kegagalan kita (dan kita semua melakukan-nya) bersifat sementara. Allah akan memelihara kepunyaan-Nya selamanya. Orang-orang yang tidak percaya mungkin mengaku telah diselamatkan meski-pun sesungguhnya mereka tidak diselamatkan, tetapi orang yang sungguh-sungguh diselamatkan tidak akan kehilangan keselamatan mereka.
----------
Source : Rick Cornish, 5 menit teologi, pinonerJaya, 249-252